Sabtu, 16 Mei 2009

Harta antara anugrah dan berkah

Islam sejatinya menempatkan harta pada posisi yang netral. Ia bukanlah sesuatu yang tercela atau terpuji dengan sendirinya, melainkan pemilik harta itulah yang menjadikan harta itu berubah menjadi fitnah atau anugerah. Islam mengakui dengan gamblang fungsi harta sebagai penopang dalam kelancaran menjalani kehidupan, karenanya Islam berpesan untuk tidak menyerahkan harta pada mereka yang tidak kredibel dalam mengelolanya. Allah SWT berfirman :

" Dan janganlah kamu serahkan (harta-hartamu) kepada orang-orang yang bodoh , harta yang
dijadikan Allah bagimu sebagai pokok kehidupan"
. (QS An-Nisa 5)

Bahkan dalam beberapa ayat (QS Al-Adiyat 8, Al-Baqoroh 180), Allah SWT juga menyebutkan 'harta' dengan lafadz "al-khoir" yang berarti : kebaikan. Ini mengisyaratkan sebuah hikmah dan rahasia kebaikan dalam sebuah harta.

Karenanya secara umum, harta atau kekayaan tidak perlu ditakuti secara berlebihan, apalagi mengatasnamakan anjuran Islam. Sikap phobi dan menjauhi harta, sebagaimana jalan yang dipilih sebagian kaum sufi, tidak seharusnya kita adopsi mentah-mentah begitu saja. Bukan harta atau kekayaan, sejatinya yang kita takuti adalah efek lanjutan dari harta /kekayaan yang bisa melalaikan. Dalil Al-Quran dan Sunnah selalu mengingatkan akan hal ini, yaitu jangan sampai harta membuat kita lalai. Ketika kita tidak lalai dari mengingat Allah SWT, maka harta kekayaan kita akan dijanjikan keberuntungan oleh Allah SWT.

" Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. " ( QS Al-Munafiqun 9 )

" Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung" (QS Jumat 10)

Paparan dua ayat di atas menjadi demikian jelas bagi kita, bahwa dalam masalah berinteraksi dengan harta dan bisnis, kata kuncinya ada dua :

1) Lalai dari mengingat Allah menjadikan kita rugi dan harta statusnya menjadi fitnah,

2) dan sebaliknya ; selalu mengingat Allah SWT dalam perniagaan , kita akan beruntung dan harta menjadi anugerah.

Berbagai alasan untuk menjadi kaya

Ketika kita sudah lebih netral dalam memposisikan harta, tidak phobi dan juga tidak menganggapanya segala-galanya bagi kehidupan kita, maka mari kita pertajam bahasa kita untuk menyadari bahwasanya ajaran Islam secara langsung maupun tidak menuntut kita untuk menjadi kaya, atau lebih kaya dari sebelumnya. Berikut beberapa alasan Islam menuntut kita untuk kaya :

Pertama : Lebih Kaya berarti lebih bisa bermanfaat bagi yang lainnya

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda : " Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya " (HR Baihaqi dan Ibn Asakir) , dalam riwayat : " yang paling dicintai oleh Allah SWT ".

Dengan kekayaan, seseorang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Ia bisa berkontribusi dengan hartanya untuk membantu seseorang yang membutuhkan. Ibadah sosial seperti ini tidak bisa diremehkan, dalam riwayat dari Ibnu Abbas ra disebutkan ; pahalanya melebihi itikaf di masjid nabawi sebulan penuh ! Inilah peluang kemuliaan tersendiri yang harus disadari dan disambut oleh orang-orang kaya.

Kedua : Menjauhkan dari efek negatif kemiskinan

Rasulullah SAW sejak dini mengajarkan pada kita untuk menjauhi kemiskinan.. Dalam doa-doa beliau senantiasa diisyaratkan untuk mengarah pada kekayaan dan berlepas dari kemiskinan. Dari Abdullah bin Mas'ud, bahwasanya Rasulullah SAW berdoa pada duahari raya : Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ketakwaan, harga diri, kekayaan dan petunjuk " (HR Thobroni )

Dari Abi Bakroh ra, saya mendengar Rasulullah SAW berdoa : " Ya Allah , sesungguhnya Aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran " (HR Al-Hakim)

Dengan menjadi kaya, otomatis kita bisa menjauhi dari efek negatif kemiskinan. Dalam hal ini kita bisa lihat contoh dari Lukman al-Hakim yang mengingatkan anaknya tentang bahaya kemiskinan. Ia berpesan kepada anaknya : " wahai anakku ..hendaklah engkau berusaha untuk mencari penghasilan yang halal, karena tidaklah seseorang itu menjadi fakir melainkan ia akan terkena tiga akibat, yaitu : tipis dalam agamanya, lemah akalnya, dan hilang kewibawaannya, dan ketahuilan yang paling buruk dari itu semua adalah : orang-orang akan meremehkannya !" (Mukhtasor Minhajul Qosidin)

Ketiga : Banyak amal ibadah dan anjuran Islam memerlukan dana besar

Sebagai sebuah konsekuensi dari ajaran Islam yang syamil, maka muncul banyak ragam amalan syar'I yang mau tidak mau membutuhkan pendanaan yang cukup. Contoh sederhana adalah jihad dan haji. Kedua amalan agung tersebut setidaknya membutuhkan kesiapan finansial yang lebih besar dari ibadah yang lain. Dari mulai transportasi, senjata hingga persiapan logistik. Bahkan dalam perang Tabuk, beberapa sahabat yang tulus ingin ikut berperang gagal berangkat karena tidak kebagian jatah logistik yang cukup.( Lihat : QS At-Taubah 91-92).

Itu dari contoh yang wajib, yaitu jihad dan haji. Sebenarnya ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan Islam jelas-jelas membutuhkan modak banyak dalam menjalankannya. Misalnya perintah Umar bin Khatab pada warga Syam untuk melatih anak-anak mereka tiga hal, yaitu ; berenang, menunggang kuda dan memanah ! Bayangkan saja di jaman ini berapa banyak biaya yang harus kita siapkan untuk berlatih menunggang kuda, berenang dan memanah ? Jawabnya sederhana ; hanya mereka yang berduit yang bisa melakukannya.

Keempat : Karena hukum asal kenikmatan dunia ini memang boleh

Ini alasan paling sederhana tapi memang logis, yaitu bahwasanya segala kenikmatan di dunia ini memang diciptakan Allah untuk manusia. Jika tidak ada dalil yang jelas dan tegas mengharamkannya, maka hukum asalnya adalah mubah. Allah SWT pun mengingatkan kita supaya tidak 'melulu' mencari akhirat, tetapi juga harus mengambil bagian dari kenikmatan dunia.

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.( QS Al-Qoshos 77)

"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal (ketenangan) } dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta, bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu) " ( QS An-Nahl : 80)

Islam bukan cuma mengingatkan tentang kenikmatan dunia, tetapi bahkan Rasulullah SAW juga memberikan semacam batasan standar yang wajar untuk dicari dan diusahakan.

Dari Sa’d bin Abi Waqof, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Empat hal termasuk unsur kebahagiaan : istri yang sholeh, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman “ ( HR Hakim dalam Al-Mustadrok )

Hadits di atas memberikan standar kebahagiaan dunia yang wajar dan layak untuk 'sedikit' kita perhatikan, yaitu berupa ; tempat tinggal yang luas dan kendaraan yang nyaman.

Kelima : Karena Fitrah manusia memang diarahkan untuk menjadi orang kaya !

Bukanlah suatu hal yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa fitrah manusia memang dianugerahkan oleh Allah SWT untuk menjadi kaya raya. Karenanya manusia diberikan kecintaan yang fitrah pada banyak hal di dunia ini yang –secara umum- harus didapatkan dengan sebuah kekayaan. Allah SWT berfirman : " Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
(QS Ali
Imron 14)

Keenam : Islam melarang kita meninggalkan generasi yang miskin !

Allah SWT berfirman : "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. " (QS An-Nisa 9)

Ayat di atas memang tidak langsung berhubungan dengan motivasi untuk kaya, karena sejatinya ayat tersebut lebih membahas tentang wasiat dan adab-adabnya. Tetapi secara keumuman makna, ayat tersebut juga mengisyaratkan bagi para orang tua untuk meninggalkan harta yang cukup bagi anak-anaknya, agar tidak ditinggalkan –ketika meninggal- dalam kondisi yang lemah, apalagi meminta-minta kepada orang lain.

Ini berarti untuk meninggalkan harta warisan yang cukup bagi keturunan kita yang akan datang, kita butuh bukan sekedar kaya, tetapi kaya raya. Agar tidak hanya kita dan keluarga saja yang menikmati dan mengelolanya, tetapi juga generasi selanjutnya.

Penutup : Mengelola Kekayaan dengan Ilmu & Keshalihan

Islam selalu menambahkan 'ilmu' dan 'keshalihan' saat bercerita tentang harta yang baik. Ini menandakan bahwa semua harta kita menjadi tiada guna jika tidak diikuti dengan kemampuan maintenance yang diharapkan Islam. Karenanya, syarat kredibilitas dan kapabilitas dalam mengelola harta selalu dituntut agar menjaga harta itu tetap sebagai anugerah dan tidak berubah menjadi fitnah.

Tentang syarat kredibilitas, Rasulullah SAW bersabda : " Sebaik-baik harta yang baik adalah yang ada pada lelaki yang sholih (bertakwa) " (Shahih dg syarat Muslim). Adapun tentang kapabilitas, Rasulullah SAW menyebutkan dalam haditsnya : " Seorang hamba yang diberikan rizki oleh
Allah berupa harta dan ilmu, maka ia takut pada Allah, menyambung silaturahmi dengan hartanya, dan mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allah, maka orang ini mempunyai posisi yang paling utama " (HR Tirmidzi)

Akhirnya , dengan ilmu dan keshalihan, harta akan benar-benar menjadi anugerah bagi pemiliknya. Rumah yang nyaman dan luas akan menjadi lahan persemaian benih-benih genarasi cendekia yang beriman. Kita bisa membuka sebuah taman baca untuk anak dan remaja, mengundang pengajian ibu-ibu, atau mengajak bapak-bapak arisan RT sambil berdiskusi ringan tentang kehidupan. Dengan ilmu, kendaraan kita yang nyaman bisa mengantarkan kita menghadiri majelis-majelis ilmu : pengajian, kajian, seminar atau bahkan bangku perkuliahan, dengan cepat dan bersahabat.

Senin, 13 Oktober 2008

hanya semenit

SEMENIT SAJA, , , , , , , , ,

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000,- apabila dibawa ke
masjid
untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk
dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya a pabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra
namun
Kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser
namun
Lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata,
namun
Alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada
saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur'an;
namun
Betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun
Betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya
namun
Betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan
menggema.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya
atau
Berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu

Lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api;
namun
Kalau ada mail yang isinya tentang Keagungan Allah SWT betapa seringnya
kita ragu-ragu,
enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon
DELETE.

ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR. .?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah
kepada ALLAH SWT, YANG MAHA MENGETAHUI, MENDENGAR, PENGASIH DAN PENYAYANG.
Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak
orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka
masih percaya akan sesuatu. . . . . .

Kamis, 18 September 2008

MERAMALKAN MASA DEPAN

Slam Kenal..
saya mempelajari dan memahami bahwa masa depan kita baik di dunia dan di akhirat dapat dilihat dari apa tindakan yang telah kita kerjakan dan apa yang akan kita lakukan,juga dengan siapa kita bergaul atau bagaimana lingkungan kita bergaul, karena kita beriman kita baiknya menggunakan hadist atau ayat2alquran, hadist pertama dalam pelajaran mempelajari masa depan kita. adalah hadist yang terdapat dalam riadhus shaliheen.

Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin dia beruntung,
Barang siapa yang hari ini sama dengan hari ini dia rugi dan
barang siapa hari inilebih buruk dari hari kemarin dia celaka.

ok teman2 mari kita lihat isi dompet kita sejenak. isinya mungkin puluhan ribu /ratusan ribu.
dan lihat kartu krdit kita, berapa kreditnya, atau lihat atm kita berapa saldo..
bagi yang memiliki giro berapa yang harus dibayar bbrapa blan kedepan
dan juga lihat kwalitas shalat kita, infaq kita dan amal shaleh lainnya.
ingat ingat juga buku apa yang terakhir kita baca masihkah kita masih belajar hari ini..

ada 2 cara mengetahui masa depan kita. baik dunia maupun akhirat.
1. melalui database amal..
OK. stelah itu marilah kita buat tabel,
garis x dan y, garis y untuk amal atau tindakan kita, garis x horizontal untuk waktu atau tanggal, bulan, tahun
lihat perbulan/ per hari atau pertahun yang jelas tabel yang kita buat berdasarkan reality.
BILA HARI INI LEBIH BAIK DARI KEMAREN(BERUNTUNG) PASTILAH GARISPANAH MENUNJUKAN KEATAS(KANAN)
Bila HARI INI SAMA DENGAN HARI KEMAREN(rugi) GARIS PANAH AKAN LURUS KEDEPAN. KANAN JUGA
TAPI BILA hARI KEMARIN lebih baik dari hari ini alias hari ini lebih jelek dari kemaren(celaka) garis panah akan menunjukan keKIRI.

Dalam surat al waqiah , dijelaskan bagimana nasib golongan kanan dan kiri tsb, Qs 56:8-9 alangkah mulianya golongan kanan, alangkah sengsaranya golongan kiri.

Bagaiman kita bisa terhindar atau selamat dari garis panah kiri/golongan kiri/celaka
1. dalam hadist shahih lainnya
manusia dibagi dalam tiga kelompok.
pertama, kelompok yang mendzalimi dirinya sendiri. ialah orang yang mengerjakan batasan keimanan minimal, seperti syahadat saja mereka melaksanakan kewajiban dan juga tidak melaksanakan kwajiban lainnya
kedua pertengahan, mereka mengerjakan kewajiban saja, sunah tidak mereka lakukan,
dan yang ke 3 sabiqun bil khaerath merekalah orang2 yang merespon cepat terhadap kebaikan,

jadi bila kita lagi dalam keadaan garis panah lurus kekanan.atau k kiri berusahalah agartetap menjadi orang yang sabigun bil khaerot. ok.
coba anda perhatikan orang2 yang memiliki kekayaan yang melebihi standart disekitar kita, kebanyakan dari mereka ialah orang2 yang memiliki sifat sosial yangtinggi. kalaupun ada orang yang kaya tapi tidak memiliki sifatsosial yang tinggi, ga masalah, karena mereka tdak layak kita jadikan contoh.

2. dengan mememperhatikan bahasa tubuh kita.

BILA HARI INI LEBIH BAIK DARI KEMAREN(BERUNTUNG) PASTILAH perasaan kita akan bahagia, semangat, dapat dilihat dari senyuman manisnya. bila kita melihat orangseperti ini pastilah kita ikut2abahagia.,
Bila HARI INI SAMA DENGAN HARI KEMAREN(rugi)perasaan kita, merasakan bosan, jenuh biasanya mereka orang2 yang melaksanakan rutinitas.
TAPI BILA hARI KEMARIN lebih baik dari hari ini alias hari ini lebih jelek dari kemaren(celaka) biasanya akan merasakan Putus asa,sedih, marah2, Bete. kebanyakan mereka stress..

Bila kita merasakan perasaan yang negaTIF DIATAS , YA JGN DEH SEGERALAH, membaca quran yang memotifasi diri ke arah yang lebih baik.. seperti jgn lah kalian berputus asa dr rahmat allah, bersegeralah menuju ampuunan allah, dan lain2.
atau ada temen yang sudah terbiasa melaksanakan rutinitas. segeralah bertindak jgn memnunggu, kesempatan tuk berbuat lebih baik.
ehh ada satu lagi knapa kita ga boleh nunggu. tapi kita harus bersegera.. menuju perubahan. dlm
QS 13:11 dijelaskan kitalah dulu yang harus bertindak untuk menuju perubahan,

begitulah teman teman kalo ada temen2 yang ingin melengkapi silahkan saya bersedia open mind...
terima kasih.

hendrasunandar.blogspot.com

Selasa, 09 September 2008

Bersyukur baru meminta

“Sudahlah, syukuri saja yang ada!”

Kalimat ini sering dialamatkan kepada mereka yang memiliki ambisi sangat besar. Bahkan kepada orang yang hanya ingin meningkatkan taraf hidup pun sering mendapat “nasihat” seperti ini. Kalimat ini seolah sudah bijak tetapi masih menyimpan pertanyaan besar, betulkan makna bersyukur itu menerima apa yang sudah ada tanpa berharap lebih banyak nikmat lagi?

Jika definisi tersebut benar, maka tidak akan ada perintah untuk berikhtiar kepada manusia. Buat apa berikhtiar jika kita sudah cukup dengan nikmat yang sudah ada? Perintah bersyukur adalah perintah mengakui dan berterima kasih atas semua nikmat Allah. Tanpa kecuali, termasuk nikmat yang tidak kita usahakan maupun nikmat yang kita usahakan. Jadi tidak ada korelasi bahwa kita cukup mensyukuri nikmat yang sudah ada saja.

Yang kedua, pada QS Ibrahim ayat 7 sudah jelas disebutkan bahwa kita diperintah bersyukur dan Allah akan menambah nikmat kita. Yang ketiga, kita juga diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh para Nabi untuk berdo’a meminta tambahan nikmat kepada Allah. Dimanakah penjelasan yang menyuruh kita tidak berharap untuk mendapatkan lebih banyak nikmat lagi?

Hal ini sudah menjadi keyakinan sehingga menjadi suatu mindset keliru pada sebagian umat Islam. Mereka menjadi memiliki suatu batasan tanpa disadari dalam pikirannya bahwa mereka sebenarnya tidak berhak mendapatkan nikmat yang lebih banyak. Saat mereka berharap nikmat yang lebih banyak baik nikmat materi maupun maknawi, mereka takut menjadi orang yang tidak bersyukur.

Yang benar adalah kita tetap berhak mendapatkan nikmat yang lebih banyak lagi dibanding nikmat yang sudah kita miliki sambil mensyukuri nikmat yang sudah ada. Yang tidak boleh adalah kita berusaha mencari nikmat karena kita mengingkari nikmat yang sudah ada. Mulai sekarang mari kita ubah mindset kita menjadi orang yang beryukur sambil mengharap nikmat lebih banyak lagi. Tetaplah berdoa dan berusaha untuk nikmat yang lebih banyak dan tetaplah bersyukur atas apa yang sudah kita terima. Kedua hal ini bisa kita lakukan secara bersamaan, bahkan harus.

Aturan Keseimbangan

Dalam kehidupan ini, hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, bukanlah suatu jaminan atas keselamatan seseorang bila ia tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebaliknya, ketiadaannya terhadap kepemilikan kekayaan duniawi tidak akan membuat sengsara, bila kita berepagangan teguh pada tali Allah Swt.

Untuk itu, agar kita terhindar dari ketergantungan akan cinta dunia dan tidak mengabaikan terhadap nikmat dunia tersebut, maka diperlukan adanya keseimbangan dalam memandang kekayaan duniawi ini. Yakni kita harus berperilaku zuhud terhadapnya. Prinsip utama zuhud adalah meninggalkan ketergantungan, tetapi bukan serta merta meninggalkan kepemilikan.

Konsep seperti itulah, seharusnya yang tertanam dalam jiwa seorang muslim. Petunjuk ini dapat kita temukan dalam Alquran. Allah Swt berfirman, “Dan bila telah ditunaikan shalat maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan carilah dari karunia Allah. Dan ingatlah Allah dengan ingat yang banyak, agar kamu semakin beruntung.” (QS. Al-Jumuah [62]:10). Ayat ini dapat menjadi petunjuk akan tidak adanya larangan atas kepemilikan. Namun, pada keterangan lain Allah Swt melarang tegas bagi siapa saja yang sangat tergantung kepada dunia semata dan terkekang oleh perhiasannya. Allah Swt berfirman, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan yang tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. An-Najm [53]: 29).

Berikut ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada kekayaan duniawi.

Tidak meletakan hal-hal duniawi di hati.

Orang zuhud itu akan meletakan dunia di tangan dan tidak meletakannya di hati, serta tidak dengan membuangnya. Ini kunci yang pertama bila kita ingin selamat dengan kekayaan duniawi.

Oleh karena itu, hendaklah ia bersama Allah dan hatinya lebih banyak didominasi oleh nikmatnya ketaatan, karena hati tidak dapat terbebas sama sekali dari rasa cinta (baca: cinta dunia atau cinta Allah). Kedua cinta ini di dalam hati seperti air dan udara di dalam sebuah gelas.

Itulah sebabnya, barangkali mengapa Hisyam bin Hassan pernah berkata, “Tiada seorang yang mengagungkan dirham kecuali Allah akan menghinakannya.”

Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi.

Perilaku hanyut dalam memburu kekayaan duniawi merupakan sesuatu yang membahayakan. Sebab sangat mungkin kesempatan dan keseriusan seseorang dalam memburu kekayaan duniawi akan berakibat manusia lupa akan kewajibannya berdakwah. Sehingga pada ujungnya, hal itu akan membuat hatinya beku dan mengeras serta jiwanya menjadi kering.

Sejarah memperlihatkan kepada kita, betapa banyak jiwa-jiwa suci akhirnya tercemar. Adanya tali ukhuwah yang kuat akhirnya berakhir dengan kebencian dan kehncuran. Hal demikian, tidak lain disebabkan adanya persaingan di antara mereka dalam mencari kekayaan duniawi dan melupakan akhirat. Adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf ra., kedua sosok yang patut dicontoh, karena ia terkenal kaya, tetapi selalu berpikir tentang akhirat.

Tidak menumpuk-numpuk kekayaan duniawi.

Setan sebagai musuh manusia, tentu akan selalu berusaha merayu dan membujuk orang-orang kaya untuk terus menimbun dan menumpuk kekayaannya, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah. Padahal kedudukan kekayaan (harta) dalam pandangan Islam adalah harta Allah sedangkan manusia itu terikat dalam membelanjakannya dengan ketentuan-ketentuan yang disyariatkan- Nya.

Untuk itu, agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikan kekayaan dunia sebagai jalan, bukan satu-satunya tujuan, dan bukan pula sebagai sebab yang dapat menjelaskan semua kejadian. Sehingga patut kita renungkan apa yang dikatakan Al Manawy bahwa, “Harta itu tidak akan tercela dengan sendirinya, maka sesungguhnya harta dunia itu adalah ladang di akherat. Barangsiapa mengambil harta dunia itu dengan memelihara hukum syariat, maka Allah akan memberi pertolongan di akheratnya.”

Jadi, kekayaan harta itu bagaimana orang yang memilikinya, karena ia bisa menjadi jalan kebaikan dan juga bila tidak berhati-hati ia akan memperbudak diri kita.

Segera menginfakkan kekayaan duniawi yang diperoleh.

Perilaku menumpuk-numpuk kekayaan harta akan berakibat mereka melupakan orang fakir miskin. Sehingga untuk menghindari hal ini, kita hendaknya berusaha untuk segera menginfakkan kekayaan yang telah kita peroleh.

Dalam Alquran, Allah Swt memberi petunjuk kepada kita berkaitan dengan membelanjakan kekayaan harta ini, yaitu: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Baqarah [2]: 67).

Lebih jauh, agar kita terhindar dari ketergantungan terhadap kekayaan dunia, maka kita dilarang untuk menjatuhkan dirinya kepada kehancuran. Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2]: 195).

Salah satu bentuk sikap berbuat baik terhadap kekayaan dunia adalah dengan segera menginfakkannya di jalan Allah. Nabi saw bersabda, “Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan untuk berinfak adalah lebih baik bagimu. Dan jika engkau kikir adalah lebih buruk bagimu. Dan janganlah kamu boros terhadap kekayaanmu. Dan bantulah kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim, Turmudzi).

Dalam hadits lain disebutkan, “Jagalah kamu dari sifat kikir, karena sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang sebelum kamu telah binasa, disebabkan kekikiran." (HR. Dawud).

Akhirnya, apabila tujuan hidup kita tujuannya hanya Allah, maka ketika mendapat karunia kekayaan duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Dan sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Allah berikan kepadanya. Jadi, hendaknya dalam diri ini terhujam tekad bahwa dirinya tidak akan rela dan tidak berniat sedikit pun untuk menenggelamkan dirinya dengan kekayaan harta yang dimilikinya di luar tuntunan-Nya. Wallahu’alam.***

Menunda dan menanti

Menunda-nunda adalah perusak terhebat keberhasilan Anda.

Adalah percuma punya ilmu dan strategi yang hebat jika
kita menunda-nunda untuk melakukannya.

Hentikan menunda-nunda sekarang juga